Narasi

Peran Akademik dan Sosial Kaum Intelektual



Oleh A. Hajar Mutahir


Peminat Filsafat dan Kebudayaan Jawa.

Para intelektual telah turut membentuk kehidupan politik di negara-negara yang sedang berkembang (Edward Shils 1972). Pembentukan kehidupan politik tersebut menjadi salah satu dari gambaran identitasnya sebagai intelektual. Gambaran dari para intelektual itu lahir dari berbagi cakrawala atau pertautan pengetahuan dan praktik dalam kehidupan akademik maupun sosial. Pertautan atau cakrawala semacam itu senantiasa mengacu pada cita-cita etis, seperti kebijaksanaan, kebaikan, dan sebagainya, baik yang sifatnya individual maupun kolektif (Budi Hardiman, dalam Kritik Ideologi).

Di dalam sejarah Indonesia, kaum intelektual memiliki peranan yang amat besar. Mereka mendorong revolusi kemerdekaan. Mereka juga terlibat aktif dalam pembangunan setelah kemerdekaan. Mereka adalah kaum terpelajar yang telah mendapat pendidikan tinggi, lalu membagikan pengetahuan mereka untuk kebaikan bersama. Tokoh-tokoh besar, seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Pramoedya Ananta Toer, adalah kaum intelektual Indonesia.

Peran dan posisi kaum intelektual dalam perjalanan perkembangan Republik Indonesia cukup penting dalam hal memberi konstribusi gagasan untuk membangun Republik ini. Dengan berbekal pengetahuan kritis, kaum intelektual telah mampu melakukan terobosan-terobosan dalam hal ide, serta cara pandang yang telah digunakan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dalam suatu realitas sosial. Dengan menggunakan ide, kaum intelektual telah menjalankan peran dan atau tanggung jawab akademik dan sosial melalui cara pandangnya terhadap realitas sehingga cara pandang tersebut telah dijadikan acuan dalam memahami kondisi sosial. Peran dan posisi kaum intelektual dalam masyarakat telah bermakna ketika ia mampu menjalankan kedua peran, yakni peran akademik dan sosial (Abdullah Totona, dalam Kaum Intelektual dan Ambiguitas, 2014).

Lantas, apa peran kaum intelektual bagi masyarakat?


Peran Akademik dan Sosial

Kaum intelektual adalah orang terpelajar (biasanya bergelar akademik tinggi, namun tidak selalu) yang dengan ketulusan hatinya membagikan pengetahuannya untuk mengembangkan masyarakat. Mereka perlu tampil di media-media, namun bukan untuk mencari uang atau nama baik, melainkan untuk berbagi ide-ide yang baik, guna kebaikan masyarakat. Hati kita tenang dan pikiran kita tercerahkan, ketika mendengar kaum intelektual berbicara. Sebaliknya, hati kita takut, dan kita mendidih untuk berperang, ketika mendengar kaum in-“telek”-tual berbicara. Mereka berdua mungkin sama-sama bergelar akademik tinggi. Namun, isi hati dan pikirannya berbeda amat jauh (Reza Wattimena, dalam http://www.rumahfilsafat.com).

Peran kaum intelektual disaat memproduksi pengetahuan juga tidak terlepas dari dasar keberadaannya melalui peran akademik dan peran sosial.

Peran akademik kaum intelektual ialah peran yang dijalankan kaum intelektual untuk menambah pengetahuan melalui riset, menulis, dan berkarya secara akademik.

Menurut Pierre Bourdiou filsuf asal Perancis, kaum intelektual memiliki kekuasaan melalui ide-ide atau pengetahuan dalam sebuah masyarakat untuk membongkar struktur kekuasaan yang selalu mendominasi atau menindas masyarakat yang lemah merupakan pertarungan modal yang tersalurkan melalui arena, baik di masyarakat itu sendiri maupun di dalam dunia akademik, hingga pada akhirnya dapat membentuk habitus kaum intelektual. Habitus sendiri merupakan reproduksi dari sejarah. Di mana habitus kaum intelektual terjalin dengan kekuasaan ide-ide dan realitas yang ia tempati.

Sedangkan peran sosial kaum intelektual adalah untuk menyampaikan pandanganya kepada publik dalam hal masalah-masalah sosial yang dialami masyarakat.

Menurut Julien Benda, dalam kehidupan sosial, peran intelektual menjadi gambaran penting untuk melancarkan kritik dengan cara pandangannya di saat ia menelaah persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehingga dari situ sebagai kaum intelektual mereka dapat menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Intelektual memiliki peran sebagai orang yang selalu berbuat untuk kepentingan masyarakat dan bukan selalu berdiam diri ketika terjadi pertikaian di kepentingan tertentu. Itu artinya, habitus dibentuk melalui pertautan antara pengetahuan dan kenyataan.

Sedangkan Antonio Gramsci filsuf asal Jerman, memandang bahwa arti “intelektual” sebagai sebuah kategori sosial tidak bermakna tunggal dan bebas dari “kelas sosial” (yang dimaksud dalam kelas sosial dalam pengertian Marxis, yakni kelas borjuis dan kelas proletariat). Bagi Gramsci, semua manusia punya potensi menjadi intelektual sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki, dan dalam cara menggunakannya. Tetapi tidak semua orang adalah intelektual dalam fungsi sosial.

Gramsci mengkategorikan kaum intelektual itu menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdapat kaum intelektual “tradisional”, misalnya kaum pujangga, ilmuan, dan sebagainya, yang mempunyai posisi dalam celah masyarakat dengan memiliki aura antar kelas tertentu. Tetapi berasal dari hubungan kelas masa silam dan sekarang serta melingkupi sebuah lapisan untuk pembentukan berbagai kelas historis.

Yang kedua terdapat kaum intelektual “organik”, dengan elemen pemikir dan pengorganisasiannya dari sebuah kelas sosial fundamental tertentu. Kaum intelektual organik secara mudah dibedakan oleh profesi mereka, yang mungkin menjadi watak pekerjaan dari kelas mereka, dari pada dengan fungsi mereka dalam mengarahkan gagasan dan aspirasi dari kelas di mana mereka didalamnya secara organik.

Intelektual yang seperti apa anda?

3 tanggapan untuk “Peran Akademik dan Sosial Kaum Intelektual”

    1. Iya. Penguasa hanya berusaha mempertahankan status quo nya sebagai penguasa. Kadang, mereke menggunakan cara yang keji untuk hal itu. Jadi teringat Nicollo Marchivelli, ia menulis bahwa untuk mempertahankan kekuasaan seorang Pangeran (penguasa) harus menggunakan cara yang licik dan penuh intrik…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.