Narasi

Dimensi Mistik dalam Islam Jawa

http://ulfia.net

Oleh A. Hajar Mutahir


Peminat Filsafat dan Kebudayaan Jawa.

Mistisisme memiliki dimensi tersendiri yang senantiasa ada dan terus berkembang di dalam kehidupan masyarakat beragama. Walaupun dalam ajaran-ajaran agama tidak dijelaskan secara rinci, akan tetapi realitas di masyarakat tentang prosesi mistik masih berlaku. Dalam tradisi Islam, mistis disebut juga dengan Sufisme atau faham tentang sufi, sedangkan dalam tradisi agama Kristen mistisisme dikenal juga dengan sebutan Asketisme.

Tulisan ini berusaha membahas dimensi mistik dalam Islam Jawa. Yang dimaksud Islam Jawa disini ialah Islam yang telah mengalami proses persentuhan dengan tradisi-tradisi di Jawa. Clifford Geertz memahami Islam Jawa sebagai bentuk perpaduan ajaran-ajaran tasawuf dengan unsur-unsur animisme, dan ajaran-ajaran Hindu-Budha. Perpaduan itu melahirkan paham-paham yang khas dan terkadang lari dari konsep tasawuf Islam yang berasal dari Arab.

Ciri utama yang paling menonjol dari paham Islam Jawa adalah antroposentrisme dan panteisme. Begitu juga dengan penggunaan istilah-istilah tasawuf juga banyak digunakan dalam Islam Jawa, tetapi tidak diartikan dengan yang sebenarnya.

Pengertian Mistik

Menurut asal katanya, mistik berasal berasal dari bahasa Yunani; “mystikos” yang artinya rahasia, serba rahasia, tersembunyi, gelap, atau terselubung dalam kekelaman. Dalam buku De Kleine W.P. Encylopaedie (1950) karya G.B.J. Hiltermann dan Van De Woestijne, kata mistik berasal dari bahasa Yunani “myein” yang artinya menutup mata. Kata mistik sejajar dengan kata Yunani lainnya “musterion” yang artinya suatu rahasia. Paham mistik dilihat dari segi materi ajarannya dapat dipilah menjadi dua; yaitu paham mistik keagamaan yang terkait dengan tuhan dan ketuhanan dan paham mistik non-keagamaan yang tidak terkait dengan ketuhanan.

Dalam kata mistik itu mengandung ‘sesuatu yang misterius’, mungkin tidak dapat dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual. Mistik juga dapat disebut sebagai “arus besar kerohanian yang mengalir dalam semua agama.” Dalam pengertiannya yang paling luas, mistik juga bisa didefenisikan sebagai kesadaran terhadap kenyataan tunggal (yang mungkin disebut kearifan, cahaya, cinta atau nihil).

Namun, defenisi-defenisi itu hanya sekadar petunjuk saja. Sebab, kenyataan yang menjadi tujuan mistik, dan apa yang tak terlukiskan, memang tidak bisa dipahami, dijelaskan dan diungkapkan dengan cara persepsi apapun; baik filsafat maupun penalaran logis. Hanya kearifan hati, gnosis, ma`rifah, yang bisa mendalami beberapa di antara seginya.

Diperlukan sebuah pengalaman rohani yang tidak tergantung pada metode-metode indera dan fikiran. Begitu si pencari memulai perjalanannya menuju kenyataan akhir ini, ia akan dibimbing oleh cahaya batin. Cahaya itu akan semakin terang ketika ia membebaskan diri dari keterikatannya dengan dunia atau, seperti kata para sufi; menggosok cermin jiwanya sampai mengkilap. Hanya setelah masa pemurnian yang lama – yang dalam mistik Kristen disebut via purgativa – si pencari bisa mencapai “via iluminativa” yakni tempat di mana ia diberkati cahaya dan kearifan. Dari sana ia bisa mencapai sasaran akhir pencarian mistik, yakni “unio mystica” atau “via unitiva”. Hal ini bisa dihayati dan diungkapkan sebagai perpaduan cinta, atau sebagai “visio beatifica”, yakni tempat jiwa menyaksikan segala yang diluar jangkauan penglihatan, diliputi oleh cahaya Tuhan. Hal ini bisa digambarkan sebagai penyingkapan cadar ketidaktahuan, cadar yang menutupi ciri-ciri dasar Tuhan dan makhluknya, yang dalam istilah tasawuf disebut “kasyaf” atau “mukasyafah”.

Dalam agama Islam, mistisisme diberi nama tasawuf dan oleh kaum orientalis Barat disebut sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis Barat khusus dipakai untuk mistisisme Islam dan istilah sufisme tidak dipakai untuk mistisisme yang terdapat dalam agama-agama lain. Seperti halnya agama lain, mistisisme Islam bertujuan membersihkan unsur-unsur batiniah manusia untuk mendapatkan kebersihan jiwa dari segala yang mengotorinya sekaligus berusaha untuk sedekat mungkin kepada Allah.

Maka dapat diketahui bahwa mistik bersifat universal, terdapat di semua agama, bersifat rahasia dan sulit dicermati secara ilmiah.

Menurut Clifford Geertz, tasawuf yang berkembang di Indonesia telah mengalami perkembangan dan pada sebagian ajarannya telah dipengaruhi oleh berbagai kepercayaan pra-Islam dan ajaran Hindu-Budha. Paham semacam ini disebut sebagai Islam-Kebatinan. Paham ini melakukan sinkretisme antara ajaran tasawuf dengan ajaran kebatinan di luar Islam. Di Indonesia, paham Islam kebatinan ini kemudian berkembang menjadi berbagai macam aliran-aliran kepercayaan dan kebatinan. Pada perkembangannya, aliran-aliran tersebut kelihatan sudah jauh meninggalkan ajaran Islam yang murni, bahkan hampir tidak ada kaitan sama sekali dengan ajaran Islam.

Peninggalan Penting tentang Mistik dalam Islam Jawa

Dalam sejarah penyebaran agama di Jawa, Islam mengalami perkembangan yang cukup unik. Dari segi agama, suku jawa sebelum menerima pengaruh agama dan kebudayaan Hindu, masih dalam taraf animisme dan dinamisme. Mereka memuja roh nenek moyang, dan percaya adanya kekuatan gaib atau daya magis yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan, binatang, dan benda-benda yang dianggap memiliki daya sakti.

Simuh dalam penelitiannya membedakan dua macam kepustakaan Islam yang berkembang di Jawa, yaitu: kepustakan Islam santri dan kepustakaan Islam kejawen. Kepustakaan Islam santri adalah kepustakaan yang bersumber dari kitab-kitab Islam yang diajarkan di pesantren-pesantren dan bersumber dari ulama-ulama besar Islam yang sebagian besarnya berbahasa Arab, sebagian lainnya berbahasa Arab melayu. Sementara kepustakaan Islam kejawen adalah suatu kepustakaan jawa yang memuat perpaduan antara tradisi jawa dan unsur-unsur ajaran Islam, terutama aspek-aspek ajaran tasawuf dan budi luhur yang terdapat dalam perbendaharaan kitab-kitab tasawuf. Ciri kepustakaan Islam kejawen, ialah memperhunakan bahasa jawa dan sangat sedikit mengungkapkan aspek syariat, bahkan sebagian ada yang kurang menghargai syariat. Yakni syari`at dalam arti hukum atau aturan-aturan lahir agama Islam. Bentuk kepustakaan ini termasuk dalam kepustakaan Islam, karena ditulis oleh dan untuk orang-orang yang telah menerima Islam sebagai agama mereka.

Nama yang sering dipergunakan untuk menyebut kepustakaan Islam kejawen, adalah primbon, suluk dan wirid. Suluk dan wirid berkaitan isinya dengan ajaran tasawuf. Adapun primbon isinya merangkum berbagai ajaran yang berkembang dalam tradisi Jawa, seperti ngelmu-petung, ramalan, guna-guna, dan sebagainya. Selain itu primbon umumnya juga memuat aspek-aspek ajaran Islam. Kemudian terdapat Serat Suluk Wujil, yang berisi wejangan Sunan Bonang kepada Wujil, seorang budak raja Majapahit. Suluk Malang Sumirang, yang disusun oleh Sunan Panggung waktu beliau menjalani hukuman bakar di tengah nyala api. Ada lagi kepustakan jawa yang disebut serat. Serat yang terkenal adalah Serat Wirid Hidayat Jati yang dikarang oleh Ranggawarsita (1802-1873), Serat Gatoloco, Serat Darmogandul, Serat Cabolek, Serat Centini yang dianggap sebagai puncak kesusastraan-mistik kejawen, dan lain sebagainya.

Di antara peninggalan kepustakaan Islam kejawen yang paling tua, masih dapat ditemukan, dan menurut perkiraan berasal dari abad ke-16, yaitu Suluk Sunan Bonang dan primbon Jawa Abad Enam Belas. Kitab yang lebih dahulu adanya dari kedua manuskrip di atas adalah Serat Suluk Sukarsa. Kitab ini berisi ajaran mistik Islam kejawen. Menurut Purbatjaraka, dalam Serat Suluk Sukarsa terdapat ungkapan-ungkapan yang mirip dengan syair-syair Hamzah Fansuri.

Dalam cerita masyarakat jawa, khususnya menurut versi “abangan” (sebuah penggunaan istilah oleh Cliiford Geertz untuk menunjukkan varian Islam yang cenderung kepada paham animisme di daerah Jawa), diceritakan bahwa Sunan Kalijaga, tokoh besar penyebar ajaran Islam di Jawa, dijadikan model dalam penggunaan praktek semedi. Ketika masih muda ia adalah seorang perampok, penjudi, pemboros dan umumnya jahat. Pada suatu hari, datanglah ke kota ayahnya seorang perintis Islam bernama Sunan Bonang, salah satu dari wali Sembilan. Sunan Bonang mengenakan pakaian yang bagus dan permata yang mahal-mahal, dan ujung tongkatnya terbuat dari emas murni. Suatu ketika ia memasuki daerah di mana Sunan Kalijaga (yang waktu itu dipanggil Raden Said) biasa duduk di tempat itu; ia diberhentikan oleh Kalijaga, yang meminta permata dan tongkatnya dengan taruhan nyawanya. Sunan Bonang hanya tertawa dan berkata, “mengapa, permata ini tidak ada artinya, lihatlah sekelilingmu!”, Kalijaga melihat ke sekelilingnya, dan terkejut ketika melihat bahwa Bonang telah mengubah semua pohon menjadi emas dan beruntaikan permata. Dia terkejut dan sadar akan kesaktian Sunan Bonang. Kalijaga memohon kedada Bonang untuk dapat mengajarkan ilmu rahasianya tersebut. Bonang berkata, “baiklah, tetapi itu sulit sekali dan berbahaya. Apakah kamu berani?” dan Kalijaga berkata, “saya berani sampai titik darah penghabisan.” Maka Bonang berkata, “kalau kamu berani, maka tunggulah saya di sini di pinggir kali ini sampai saya kembali.” Kalijaga menunggu, dan bertapa. Selama bertahun-tahun Sunan Bonang tak kembali, tetapi Kalijaga terus tidak bergerak di satu tempat. Pohon-pohon tumbuh di sekitarnya, wanita-wanita cantik menggoda, setan dan hantu menakut-nakutinya, tetapi ia tidak bergerak. Akhirnya Bonang kembali dan mendapati Kalijaga (kali = sungai & jaga = penjaga) ternyata lebih sakti dari dia sendiri, karena lamanya ia bertapa. Sesudah ini Kalijaga tidak merampok dan berjudi lagi tetapi berusaha menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Antara Islam dan Kepercayaan Lokal

Tidak ada satu agama atau ajaran yang tidak dipengaruhi oleh kepercayaan dan kebudayaan lokal. Begitu juga dengan agama Islam. Ia awalnya merupakan ajaran yang murni dan bersih, ketika Islam hadir ke tengah-tengah masyarakat yang telah memiliki kepercayaan sebelumnya, pada prakteknya akan terjadi saling keterpengaruhan antara keduanya.

Kaum sufi berusaha untuk menemukan Tuhan dalam hatinya, agar mencapai cinta-kasih emosionil (hubb) dan cinta eskatis (isq) kepada Tuhan. Diutamakanlah persatuan (ittisal) dengan Tuhan, bukan kesatuan (ittihad) yang berbau panteistik. Jalan rohani mereka melalui empat tingkat, yaitu syariat, tariqat, hakikat sampai ma`rifat atau pengetahuan mistik. Pada tingkat tertinggi Tuhan sendiri menyaksikan kebenaran-Nya melalui kesaksian seorang sufi, yang dalam istilahnya disebut ‘kesatuan kesaksian’ (wahdat al syuhud).

Orang-orang yang tidak dapat mengikuti para sufi dalam perjalanan jiwa mereka, terutama ahli hukum dan para penguasa negara selalu menaruh rasa curiga terhadap kekhususan ajaran tasawuf. Dalam pandangan mereka yang seluruhnya berkisar pada persoalan halal-haramnya perbuatan manusia, mereka buta akan kebutuhan orang akan pemenuhan hasrat rohani. Menurut mereka tasawuf berbahaya. Kerjasama antara otak dan hati, antara akal dan perasaan, antara hukum lahir dan batin yang dicita-citakan dalam Islam semula tidak berjalan lancar. Akhirnya timbullah konflik terbuka. Oleh mahkamah yang didominasi oleh ahli hukum (fuqaha) dan penguasa-penguasa duniawi, beberapa sufi yang berpengaruh dihukum mati seperti al-Hallaj, Ahmad al-Ghazali (saudara Muhammad al-Ghazali), dan Suhrawardi al-maqtul.

Dalam putusan radikal itu gerakan tasawuf dalam Islam bubar. Tetapi arus mistik yang tak dapat dibendung di dalam Islam itu tetap muncul dan keluar serta tercampur dengan paham lain, dan akhirnya menjadi panteisme dan magis. Ibnu Arabi mengganti dalil wahdat al-syuhud dengan wahdat al-wujud, yaitu kesatuan substansi antara manusia dengan Allah. Maka peengaruh Ibnu Arabi itulah menjalar kemana-mana, ke dalam tariqat di Turki, di Afrika, praktek fakir-fakir di India, dan akhirnya ke dalam kebatinan di Indonesia. (Subagya, 85-88).
(Bersambung..)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.