Narasi

Jerat Feodalisme di Indonesia

http://promarket.org


Oleh A. Hajar Mutahir


Peminat Filsafat dan Kebudayaan Jawa.

Ilmuwan-ilmuwan modern berpendapat bahwa feodalisme telah hancur sejak 1000 tahun lalu dan digantikan oleh kelas pemilik modal. Tentu saja hal itu hanya berlaku dalam konteks Eropa. Feodalisme belumlah sepenuhnya runtuh.

Kelas feodal (penguasa) dan kelas buruh (masyarakat bawah) terus mengalami konflik. “Sejarah dari semua masyarakat sampai sekarang merupakan sejarah pertarungan antar kelas“. Itulah yang dikatakan Karl Marx (1818-1883) lebih dari seabad yang lalu.

Sampai detik ini pertarungan terus terjadi. Dibuktikan dengan adanya berbagai konflik berupa serangan-serangan secara fisik dan non-fisik (terror, hoax, fitnah, hasut, dsb) antar kelompok masyarakat. Serangan non fisik lebih sering digunakan dengan isu-isu tertentu.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia merupakan contoh kecil negara yang mengalami gejolak tata politik dunia. Maka kita tetap bisa menganalisis menggunakan metodologi yang berkembang dari berbagai tradisi dunia. Tradisi kritisisme misalnya. Dari sudut pandang kritisismelah kita akan mengamati konflik-konflik yang terjadi di Indonesia.

Secara kultur-politis, Indonesia salah satu negara yang masih didominasi oleh kultur feodalisme, meski negara ini bukanlah negara feodal. Rezim orde baru dan sebelumnya adalah contoh rezim feodal yang sanagt kuat. Seluruh tatanan negara dan masyarakat amat didominasi oleh penguasa.

Dalam sejarahnya, Indonesia telah mencatat sebanyak tiga fase pemerintahan, yaitu Demokrasi Terpimpin atau Orde Lama yang dilaksanakan sejak kemerdekaan Indonesia di bawah kepemimpinan Ir. Soekarno, kemudian Orde Lama yaitu pada masa kepemimpinan Soeharto, dan Era Reformasi yang dimulai sejak lengsernya Soeharto pada tahun 1998.

Di era itu, masyarakat Indonesia sangat tunduk dengan penguasa. Masyarakat tertindas secara fisik dan juga bahkan secara ideologis. Akibatnya seluruh tatanan negara menjadi sangat terpusat. Demikian ini justru menciptakan demokrasi setengah hati. Situasi ini tentu saja melahirkan tatanan politik yang tidak seimbang dan tidak sehat.

Sangat diakui, bahwa kondisi politik yang ada di Indonesia hingga saat ini mengalami tingkat ‘buruk’. Banyak politisi di negara ini yang terlibat kasus korupsi. Mereka lebih mementingkan kepentingan pribadi dan lupa akan tugasnya sebagai pejuang rakyat. Bahkan saat ini, banyak pejabat dan tokoh yang hanya bisa bercuap – cuap berdiskusi di televisi mencaci maki kinerja tanpa mengetahui jalan keluarnya. Diperparah dengan hadirnya UU MD3 yang menyatakan bahwa DPR tidak boleh dikritik.

Dengan kondisi semacam ini, lalu apa peran masyarakat kelas bawah? Nyaris tidak ada. Kaum intelektual kebanyakan memilih menjadi kaum feodal ketimbang membela kaum bawah. Ini terjadi karena sedikitnya gerakan sosial yang dimotori oleh masyarakat bawah sendiri. Entah karena keterbatasan ekonomi atau pendidikan mereka.

Belum lagi jika aktivitas politik dipertautkan dengan isu-isu SARA, dimana penguasa leluasa mempengaruhi opini publik. Dengan cepat “chaos” akan segera menghantui masyarakat.

Antonio Gramsci (1891-1937) menyebut keadaan ini dengan istilah yang sangat bagus yaitu “hegemoni” yakni suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi.

Kontrol Negara Melalui Berpikir Kritis

Itulah kaum feodal walau mereka cerdas dan berasal dari kaum terdidik bukan berarti bebas melakukan tindakan. Negara seharusnya memiliki kontrol yang berasal tidak hanya dari kalangan kelas atas tetapi kelas bawah juga.

Cara yang tepat ialah membangun masyarakat madani (civil society). Siapa mereka? Masyarakat madani adalah masyarakat yang berperadaban. Dawam Rahardjo mendefinisikan masyarakat madani sebagai proses penciptaan peradaban yang mengacu kepada nilai-nilai kebijakan bersama.

Masyarakat madani disebut juga kelembagaan sosial yang akan melindungi warga negara dari perwujudan kekuasaan negara yang berlebihan. Bahkan Masyarakat madani tiang utama kehidupan politik yang demokratis. Sebab masyarakat madani tidak saja melindungi warga negara dalam berhadapan dengan negara, tetapi juga merumuskan dan menyuarakan aspirasi masyarakat.

Mencipatakan dan membangun sebuah masyarakat haruslah berangkat dari individu-individu yang kritis. Kritis ialah lawan dari apatis (tidak peduli). Pola pikir kritis tidak dapat dipelajari begitu saja seperti menghafa, sebab ia berpijak pada “kesadaran”. Terutama kesadaran akan dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negaranya, dan alam semestanya merupakan bagian yang tak terpisahkan.

Kita harus mengubah pola pikir yang kita miliki, menjadi manusia yang berpikir kritis untuk kemajuan bangsa, dan harus bisa menemukan solusi, bukan hanya menanggapi. Kita tidak boleh bersikap acuh tak acuh terhadap persoalan yang ada di depan mata. Bukankah lebih baik kita membantu daripada hanya melihat suatu kesulitan yang dialami oleh orang lain?

Mulailah berpikir kritis sejak dini. Memang tidak mudah untuk mengubah sesuatu yang sudah rusak, namun bukankah semuanya masi bisa diperbaiki? Kita tidak akan mampu mengubah pola pikir orang lain, apalagi sifat orang lain. Namun kita mampu untuk mengubah pola pikir kita sendiri. Semuanya dimulai dari diri sendiri.

Bagaimana menurut anda?

2 tanggapan untuk “Jerat Feodalisme di Indonesia”

  1. Membentuk masyarakat madani itu susah pasti ya, Mas. Apalagi tak bisa dipungkiri, sebuah negara bahkan bisa tunduk pada feodal. Saya tidak ada bayangan kapan feodalisme itu bisa runtuh. Setidaknya kaum feodal telah mengalahkan raja-raja, lalu mereka naik kelas. Sekarang yang ingin juga naik kelas adalah buruh, masyarakat biasa. Saya belum ada bayangan.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.