Narasi

Dik

Oleh A. Hajar Mutahir

Begini toh, dik. Apa ndak sayang waktu yang kita lalui ini hanya terlewati begitu saja, tanpa bertambahnya pengetahuan kita tentang pelajaran sekolah, wawasan kita tentang kebudayaan; cinta kita kepada sesama, hormat kita kepada orang tua, motivasi untuk selalu berbuat baik, pemahaman-pemahaman agama yang dengan ‘sempit’nya kita jadikan pembenaran kita untuk membenci ‘sesuatu’.

Oh, ayolah dik. Apa tak bosan-bosan dirimu menuliskan sesuatu yang akhirnya nanti akan berdampak buruk untuk kehidupanmu, karena yang kau tulis hari ini di dinding facebookmu adalah umbaranmu tentang aib-aibmu sendiri, aib-aib keluargamu, teman sejawatmu, atau bahkan guru-gurumu. Sia-sia dik, sia-sia. Justru akan menjadi ‘kesialan’ tersendiri untukmu nanti.

Dik, ini tidak serumit pikiranmu, bahwa aku menasehatimu karena aku merasa lebih baik. Bukan itu, dik. Kita sedang hidup bersama di zaman yang tak bisa memberi kita sesuatu yang bermanfaat tanpa kita ‘berjuang’ sendiri menjemputnya. Kita pernah sepakat, bahwa sistem pendidikan kita terbelakang, tapi kenapa justru aku tak melihat kau pernah memegang buku? Atau justru membuat ‘kerusuhan’ karena memposting foto-foto yang tak pantas kalian sajikan?

Dik, ini tentang kepedulian, tentang kasih sayang. Sesederhana itu, dik. Tak ada yang pantas merasa lebih baik dari yang lain saat ini. Semua harus saling menuntun, bukankan kenikmatan yang luar biasa adalah kita saling bergandengan tangan dan berjalan bersisian? Tak ada yang memintamu untuk bersaing, dik. Kebaikan hanya akan muncul hanya kita saling membantu, dik. Berkolaborasi untuk menciptakan manfaat untuk orang lain.

Kurang banyak apalagi kritikan untuk orang-orang seusia kita, dik. Degradasi nilai yang setiap hari kita pamerkan, sudah menjadi perhatian dunia. Tidakkah seharusnya kita malu, dik? Atau justru bangga dengan ketertinggalan? Lalu berteriak kepada mereka, ‘urus urusanmu sendiri’? Begitu, dik? Jangan, dik. Jangan Iakukan itu.

Bangsa dan negara ini menggantungkan semua ‘nasib’ masa depannya kepada kita, dik. Harusnya kita berbangga. Ada orang yang mempercayai kita, dik. Maukah kau, anak-cucu kita nanti justru menjadi korban atas kelalaian masa muda kita, dik? Jangan tiru mereka, dik. Orang-orang yang tak pernah memperhatikan kita, jangan tiru mereka, dik.

Rajin belajarlah, dik. Kalau keadaan mengharuskanmu untuk ‘nakal’, nakallah seperlunya, dik. Nakallah terhadap sesuatu yang kau pikir tak pantas ada di dunia ini. Nakallah dengan mengobrak-abrik sistem yang telah menghancurkan kita selama ini, dik. Nakallah dengan ilmu, dik. Nakallah.

Sekiranya kau tahu, dik. Tak ada kesedihan yang pantas lebih ditangisi dari nasib yang kita terima ini, dik. Tapi kau kuatkanlah jiwamu, tahan tangismu. Berpikirlah untuk berbuat sesuatu supaya tak ada lagi yang harus ditangisi. Atau menangislah kau, dik. Menangislah dengan marah. Airmata kemarahan justru bisa menjadi pemicu semangat yang tiada tara, dik.

Begitupun, rajinlah kau berdo’a, dik. Karena sekiranyapun usaha-usahamu nanti tak berbuah hasil yang banyak dan dilupakan orang. Masih ada ‘satu hal’ yang akan menjadi tempat paling aman untuk berharap, dik.

4 tanggapan untuk “Dik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.