Uncategorized

Ya Raab

[foto source: dok pribadi]

“Duhai Allah, janganlah Engkau membiarkanku kehausan sedangkan air jernih mengalir di depanku.”

Aku berpikir dan merenung berjam-jam sebelum memposting tulisan singkat di atas. Bertanya-tanya, “apakah layak mengadu kepadaNya seperti demikian?” atau “seolah kau meragukan perhatian Tuhan padamu?” atau ”kau kurang adab atau kurang kosakata atau justru memerintah-Nya?”

Lama kumerenung…

Oh, betapa lemahnya aku! Sungguh tak bisa aku mengelak dari kebodohanku.

Bagaimana mungkin Tuhan membiarkanku, Dia yang menempatkanku di sulbi, membawaku bergegas menuju rahim, diantara pergantian waktu dan masa Dia lindungi aku. Dia menjagaku di antara kegelapan darah, daging dan kulit. Dia yang telah mengeluarkanku di tengah orang-orang yang ditunjuki hidayah, orang-orang yang menyayangiku, mengeluarkanku ke dunia dengan keadaan baik.

Dia melembutkan kalbu ibuku, menganugerahinya susu berlimpah, mengaruniakannya tenaga, mengikat simpul senyum ibuku padamu, memberinya maqom adikodrati yang tak kupahami dan memberinya rezeki tak henti-henti.

Dia yang menjadikanku dapat merasakan; apa yang menyentuh kepalaku, apa yang menyentuh dahiku, apa yang menyentuh pipiku, apa yang menyentuh bagian lain dari tubuhku. Dia pula Iah yang menjawab panggilan di kala susah, Dia menunjukkan jalan kebaikan dan kebahagiaan, Dia menjaga dari bencana dan marabahaya, Dialah yang menyembuhkan sakit; tanpa kehendakNya takkan bersambung tulangku yang patah, takkan kering lukaku yang basah, takkan pulih mataku yang merah.

Dan demi segalanya; demi apa yang terlihat mataku, demi kepekaan pada penciuman hidungku, demi apa yang dihimpun dan dirangkai kedua bibirku, demi apa yang diucapkan lidahku, demi apa yang dikunyah gigi-gigiku, demi gusi tempat gigiku tumbuh, demi leher penyangga kepalaku, demi darah yang mengalir di nadiku, demi rangkaian tulang-tulang rusukku, demi ikatan sendi-sendiku, demi kuku di ujung jari-jariku, demi urat-uratku, demi warna pada kulitku, demi bulu-bulu di tubuhku, demi otakku. Demi apa yang kumakan dan kuminum semenjak masih menyusu, demi bangun dan tidurku, demi gerak dan diamku, demi belalak dan kedipku, demi kembang dan kempis jantungku, demi tegang dan kendur otot-ototku, demi masuk dan keluar sesuatu di tubuhku, demi lapang dan sempitnya hidupku.

Demi segalanya itu, aku belum tau cara bersyukur yang baik kepadaNya. Padahal tak mampu kuhitung segala pemberianNya padaku, apalagi menghitung kebaikanNya pada alam semesta. Dan jagad raya tak luput dari pengawasannya apalagi terhadap diriku yang kerdil ini.

Demi Dzat yang mengutus Muhammad dan menjadikan Muhammad rahmat atas seluruh alam semesta, yang Engkau berikan kemuliaan kepadanya dan kepada keluarganya yang suci, aku memohon ampun atas keluguan dan kebodohan caraku memohon kepadaMu-yang dahulu hingga saat ini. Aku tahu tiada ada yang sia-sia jika digantungkan padaMu, dan tak satupun yang akan terusir dari pintuMu.

Aku memohon ampun Tuhan. Bilamana berdo’a dengan cara tak beradab, terucap di lisan namun gerutu di hati, kuperbuat dosa berulangkali dan bilamana tak khusyuk dan ikhlas menaatiMu.

“Aku berlindung kepadaMu, ya Rabbi”

Satu tanggapan untuk “Ya Raab”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.